Wringinagung Gelar Karnaval, Jalan Desa Jadi Panggung Budaya

Robith Fahmi
Oleh
Robith Fahmi - Tim Redaksi
3 Menit Membaca
- Advertisement -

PUBLIS.ID, JEMBER – Jalan desa sepanjang sekitar empat kilometer di Wringinagung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, berubah menjadi panggung budaya pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Warga dari seluruh RT dan RW tumpah ruah mengikuti karnaval untuk merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Karnaval itu menjadi puncak rangkaian perayaan kemerdekaan di Desa Wringinagung. Tema “Budaya Nusantara Unik dan Kreatif” memberi ruang bagi warga untuk menampilkan beragam kreasi dalam iring-iringan yang bergerak menuju Kantor Desa Wringinagung.

Sejak siang, masyarakat mulai memenuhi sisi jalan. Mereka menunggu rombongan peserta yang datang silih berganti. Beragam kostum, kreasi, dan kendaraan hias menjadi tontonan warga.

Kepala Desa Wringinagung Sutina bersama perangkat desa berada di barisan awal. Mereka berjalan kaki untuk menandai dimulainya karnaval.

Sutina dan perangkat desa kemudian mengikuti perjalanan peserta sejauh kurang lebih empat kilometer. Sepanjang rute, mereka menyapa dan melambaikan tangan kepada warga yang berdiri di tepi jalan.

Kemeriahan semakin terasa ketika sejumlah sound system horeg mulai mengiringi rombongan. Dentuman musik terdengar sepanjang jalur karnaval.

Namun bagi warga, daya tarik karnaval bukan hanya suara musik. Kreativitas peserta menjadi bagian utama yang membuat masyarakat bertahan di sepanjang rute.

Setiap kelompok membawa ciri dan kreasi masing-masing. Mereka memanfaatkan momentum peringatan kemerdekaan untuk menunjukkan kemampuan sekaligus kekompakan lingkungan.

Sutina mengatakan karnaval menjadi puncak kegiatan sekaligus wadah masyarakat mengekspresikan kreativitas.

“Kami bersyukur kegiatan karnaval dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI ini dapat berlangsung meriah. Ini menjadi puncak rangkaian kegiatan sekaligus wadah bagi masyarakat untuk menunjukkan kreativitas dan kebersamaan,” kata Sutina.

Antusiasme warga terlihat dari padatnya sejumlah titik yang menjadi lokasi menonton. Telepon seluler terangkat ketika peserta dengan kostum dan kreasi menarik melintas di hadapan mereka.

Karnaval itu mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu perayaan. Tidak ada batas antara peserta dan penonton. Semua larut dalam suasana pesta rakyat.

Bagi Wringinagung, kemerdekaan dirayakan bukan hanya melalui seremoni. Jalan desa menjadi ruang untuk bertemu, berkarya, dan menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat.

Dan ketika iring-iringan terus bergerak menuju kantor desa, Wringinagung seperti sedang bercerita tentang dirinya sendiri desa yang merayakan kemerdekaan dengan cara mereka ramai, kreatif, dan bersama-sama.

Sementara itu Samsul, salah seorang warga setempat, menyebut sekitar 28 sound system horeg ikut memeriahkan kegiatan tersebut.

“Informasinya ada sekitar 28 sound system horeg yang ikut mengiringi karnaval. Kemungkinan acaranya bisa berlangsung sampai malam,” ujar Samsul. (*)

- Advertisement -
Bagikan Artikel ini