PUBLIS.ID, JEMBER – Ratusan jemaah dari berbagai wilayah di Kabupaten Jember mengikuti peringatan 10 Muharam 1448 Hijriah atau Hari Asyura yang diselenggarakan Yayasan Al-Hujjah di Husainiyah Al-Hujjah, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jumat.
Kegiatan berlangsung khidmat sebagai bentuk peringatan atas wafatnya Sayidina Husain bin Ali bin Abi Thalib dalam Peristiwa Karbala yang terjadi pada 10 Muharam 61 Hijriah.
Sejak siang, para jemaah memadati lokasi kegiatan dengan mengenakan pakaian berwarna hitam. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan tawasul, ceramah agama, pembacaan maktal yang mengisahkan Peristiwa Karbala, serta ditutup dengan maqtam.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung aman dan tertib. Panitia telah menyampaikan pemberitahuan kepada pemerintah daerah sebelum kegiatan dilaksanakan, sedangkan pengamanan dilakukan oleh personel gabungan TNI dan Polsek Sumbersari.
Dalam ceramahnya, Ustad Nasir Dimyati mengatakan Peristiwa Karbala dipandang sebagai perjuangan mempertahankan nilai-nilai keadilan dan kebenaran menurut keyakinan yang dianut para jemaah.
“Imam Husain tidak berangkat ke Karbala untuk mencari jabatan atau menjadi khalifah. Beliau bangkit karena menolak melegitimasi kezaliman. Beliau memilih syahid daripada harus membaiat Yazid bin Muawiyah yang dinilai tidak layak memimpin umat Islam,” katanya.
Ia menjelaskan, setelah Muawiyah bin Abi Sufyan wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Yazid bin Muawiyah. Menurutnya, Imam Husain menolak memberikan baiat karena berpandangan bahwa kepemimpinan harus dijalankan berdasarkan ketakwaan, keadilan, dan amanah.
Nasir juga mengisahkan perjalanan Imam Husain menuju Kufah yang didahului dengan pengiriman Muslim bin Aqil untuk mengetahui dukungan masyarakat setempat. Namun, situasi berubah setelah Ubaidillah bin Ziyad diangkat sebagai gubernur Kufah sehingga Muslim bin Aqil ditangkap dan gugur.
Ia mengatakan Imam Husain kemudian melanjutkan perjalanan bersama keluarga dan para pengikutnya hingga tiba di Padang Karbala. Menurut riwayat yang disampaikan dalam ceramah tersebut, rombongan kemudian dikepung pasukan yang dipimpin Umar bin Sa’ad atas perintah Ubaidillah bin Ziyad.
“Karbala mengajarkan bahwa jumlah bukan penentu kemenangan. Imam Husain hanya bersama sedikit pengikut, tetapi namanya harum sepanjang sejarah,” ujarnya.
Nasir juga mengisahkan berbagai peristiwa yang terjadi menjelang puncak Pertempuran Karbala, termasuk gugurnya sejumlah anggota keluarga dan pengikut Imam Husain hingga wafatnya Imam Husain pada 10 Muharam 61 Hijriah.
Menurut dia, peringatan Asyura tidak hanya dimaknai sebagai mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai momentum meneladani nilai keberanian, kejujuran, pengorbanan, dan keberpihakan terhadap kebenaran.
“Asyura bukan sekadar mengenang kesedihan, tetapi menghidupkan kembali semangat keberanian, kejujuran, pengorbanan, dan keberpihakan kepada kebenaran. Nilai-nilai inilah yang harus diwariskan kepada generasi umat Islam,” katanya.
Suasana haru mewarnai penutupan kegiatan. Sejumlah jemaah tampak meneteskan air mata saat pembacaan maqtam berlangsung sebagai bentuk penghormatan terhadap Peristiwa Karbala yang mereka peringati setiap bulan Muharam. (SAR)



