Ketika Logika Ilmiah Kalah oleh Keyakinan: Mengapa Kita Mudah Percaya Klaim Kesehatan Viral?

Oleh
Robith Fahmi - Tim Redaksi
8 Menit Membaca

Oleh: Izza Malika Yusro Diniyah
Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya

Fenomena klaim kesehatan yang viral di Indonesia hingga awal April 2026 menunjukkan dua aspek yang independen namun saling berkaitan, yaitu tekanan nyata pada sistem layanan kesehatan dan penipuan yang meluas di ranah digital. Di satu sisi, industri asuransi kesehatan telah menerima beberapa klaim dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, rasio klaim kesehatan mencapai lebih dari 100% antara tahun 2023 dan 2024. Hal ini menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi melebihi premi yang diterima. Meskipun tanda-tanda perbaikan mulai muncul pada tahun 2025-2026, situasinya belum stabil dan masih di atas tingkat optimal.

Peningkatan klaim kesehatan dipicu oleh inflasi medis dan peningkatan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan kanker, terutama setelah Idul Fitri. Kekhawatiran juga muncul mengenai penyebaran Influenza A H3N2, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memverifikasi bahwa tidak ada peningkatan klaim yang signifikan. Sebagai tanggapan, OJK merevisi peraturan perundang-undangan untuk meningkatkan tata kelola asuransi dan menurunkan risiko penipuan, yang diperkirakan mencapai sekitar 5% dari total klaim.

Namun, tantangan kesehatan di Indonesia melampaui ekonomi dan sistem pelayanan. Di era digital, masyarakat dibanjiri informasi, yang tidak semuanya dapat dipercaya. Media sosial telah menjadi lahan subur bagi klaim kesehatan yang tidak memiliki dukungan ilmiah. Praktik para influencer yang menyebarkan narasi anti-vaksin atau menganjurkan “obat mujarab instan” tanpa dasar medis semakin umum terjadi. Jenis konten ini sering dikemas dengan cara yang meyakinkan dan emosional, sehingga mudah diterima oleh masyarakat tanpa verifikasi yang tepat.

Salah satu contoh yang diberikan adalah “Flying choco,” yang diklaim memberikan efek melayang. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengklarifikasi bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan berpotensi berbahaya bagi masyarakat. Contoh ini menunjukkan bagaimana disinformasi kesehatan dapat berdampak langsung pada perilaku dan keselamatan publik, selain menjadi sumber misinformasi.

Pola ini mengungkapkan masalah yang lebih mendasar yaitu penurunan logika ilmiah dalam cara masyarakat mengevaluasi kebenaran. Setiap klaim dalam kerangka ilmiah harus diuji menggunakan data empiris, teknik verifikasi, dan kesesuaian dengan pengetahuan yang ada. Pada kenyataannya, banyak klaim kesehatan viral justru diterima semata-mata berdasarkan daya tarik naratif dari pada validitas ilmiah. Hal ini menandai pergeseran dari pemikiran berbasis bukti menuju penerimaan berbasis keyakinan.

Skenario ini terkait erat dengan cara kerja media sosial, yang lebih mengutamakan kecepatan dan viralitas daripada akurasi. Informasi sederhana dan emosional yang menjanjikan hasil instan lebih diterima secara luas daripada penjelasan ilmiah yang canggih dan terstruktur. Akibatnya, pemikiran kritis yang seharusnya menjadi inti dari penjelasan ilmiah sering diabaikan. Orang-orang tidak lagi bertanya, “Apa buktinya?” tetapi lebih tepatnya, “Seberapa meyakinkan narasi tersebut?”

Selain itu, fenomena ini menunjukkan kesalahan logika umum seperti generalisasi berlebihan berdasarkan pengalaman pribadi, kekeliruan sebab-akibat, dan ketergantungan pada otoritas semu seperti para influencer. Namun, dalam logika ilmiah, pengalaman satu individu tidak dapat digunakan untuk menarik kesimpulan luas tanpa terlebih dahulu melakukan pengujian yang ketat. Ketika prinsip ini diabaikan, klaim kesehatan yang tidak berdasar dengan mudah diterima sebagai fakta. Berdasarkan fenomena tersebut, Marlia dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa penarikan kesimpulan dari pengalaman pribadi, termasuk kategori penalaran induktif. Penalaran induktif bergerak dari kasus atau pengalaman spesifik menuju kesimpulan umum, sehingga hal ini rentan terhadap kesalahan generalisasi.

Menurut laporan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa hoaks Kesehatan masih menjadi salah satu isu yang perlu di waspadai. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi sekedar keterbatasan akses informasi, melaikan bagaimana masyarakat bisa memahami dan mempercayai informasi tersebut. Studi oleh Hafid dan rekan-rekannya menemukan bahwa individu dengan kemampuan literasi digital yang baik akan lebih proaktif dalam memperoleh informasi kesehatan, lebih kritis dalam menyebarkan informasi, dan mampu membuat keputusan kesehatan yang terinformasi. Sebaliknya, individu dengan literasi digital yang terbatas lebih pasif dalam mengakses informasi kesehatan, lebih rentan terhadap informasi palsu, dan kurang mampu membuat keputusan yang terinformasi.

Selain faktor literasi, aspek psikologis seperti bias kognitif  berperan dalam membentuk cara individu menilai informasi. Penelitian oleh Eldredge dan Hill menjelaskan bahwa dalam situasi informasi yang kompleks, manusia cenderung mengambil jalan pintas dalam berpikir. Hal ini diperkuat oleh temuan Mahajan dan rekan-rekannya yang menekankan bahwa bias ini sering terjadi tanpa disadari, sehingga klaim yang seharusnya lemah secara ilmiah bisa terasa meyakinkan.

Kecenderungan tersebut juga memengaruhi cara kita menarik kesimpulan. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang dari kita mengambil kesimpulan yang bersumber dari satu atau dua pengalaman. Ketika seseorang merasa sembuh setelah mengonsumsi suatu ramuan atau obat alami lainnya, dengan cepat pengalaman itu dianggap sebagai bukti bahwa ramuan tersebut efektif bagi semua orang. Pada titik ini, batas antara pengalaman pribadi dan kebenaran umum menjadi kabur.

Jika dilihat melalui lensa rasionalitas terbatas, fenomena ini tidak semata-mata  menjelaskan kegagalan masyarakat untuk berpikir secara ilmiah. Sebaliknya, hal ini mencerminkan keterbatasan manusia dalam memahami data yang rumit dan berlimpah. Individu lebih memilih menggunakan jalan pintas kognitif sebagai bentuk adaptasi untuk mengambil keputusan secara cepat. Mekanisme ini pada dasarnya efisien, tetapi menjadi problematis ketika beroperasi dalam ekosistem media sosial yang tidak terkontrol. Hal ini menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan hanya pada orang-orang yang “irasional”, tetapi juga pada lingkungan informasi, yang mendorong penggunaan pemikiran cepat dan belum teruji. Dengan demikian, klaim kesehatan yang viral muncul akibat interaksi antara keterbatasan kognitif manusia dengan teknologi digital yang mendorong bias-bias ini.

Singkatnya, fenomena klaim kesehatan viral menunjukkan bahwa masalah kesehatan tidak hanya bersifat medis, tetapi juga dengan dinamika psikologis, yang memengaruhi bagaimana orang memahami dan mempercayai informasi. Tanpa keseimbangan antara literasi kesehatan dan kematangan kognitif, perkembangan informasi dapat meningkatkan bahaya pengambilan keputusan yang buruk. Akibatnya, peningkatan pemikiran ilmiah sangat penting untuk memastikan bahwa masyarakat sehat secara fisik dan rasional dalam mengevaluasi klaim yang beredar.

Referensi:
Eldredge, J. D., & Hill, D. A. (2025). Cognitive biases as interrupters in evidence based practice decision-making. 269–280.

Hafid, N. F., Hamzah, Z. R., & Anma, A. R. (2025). EDUKASI LITERASI DIGITAL KESEHATAN UNTUK REMAJA :6(5), 5643–5649.

Mahajan, A., Obermeyer, Z., Daneshjou, R., Lester, J., & Powell, D. (n.d.). Cognitive bias in clinical large language models. 1–4.

Marlia, R., Deduktif, P., & Dan, I. (2024). Penalaran deduktif, induktif dan bahasa dalam penulisan ilmiah. 7, 16818–16824.

Pascayantri, A. (2026). Jurnal Pengabdian Masyarakat STAY NATURAL , STAY SAFE : GERAKAN CERDAS MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT KELURAHAN ANAWAI TERHADAP. 3(1), 141–150.

Bagikan Artikel ini
Exit mobile version