Selasa 14 Juli 2020

Sederet Porsoalan Dihadapi Petani dan Penambak, Mulai Kelep Hingga Limbah PT Delta Guna Sukses

Oleh Redaksi, PUBLIS

Saat petani palawija dan petani tambak musyawarah di Desa Mayangan, Doc: Fahmi

PUBLIS.ID, JEMBER – Dua kelompok masyarakat dari petani palawija dan petani tambak, hari ini Selasa 14 Juli 2020 menggruduk kantor Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas, Jember untuk mencari solusi atas rusaknya tanaman mereka yang disebabkan masuknya air laut ke lahan pertanian akibat jebolnya tanggul.

Perwakilan petani palawija, Muhammad Said mengatakan, semenjak adanya kelep petani tidak menemukan masalah. Tapi, perkembangan zaman, kemudian ada petani yang beralih menjadi penambak, baru di sana awal mula muncul persoalan.

“Penambak membutuhkan air asin sementara keberadaan kelep sendiri sebagai penahan kaluarnya air laut, fungsinya sebagai penutup ketika itu berfungsi full maka petani tidak ada masalah. Hanya saja, penambak membutuhkan air laut, itu yang menjadi masalah bagi penambak,” jelas Said.

Semenjak kelep dibuka, muncul persoalan bagi petani palawija sebab air asinnya masuk sawah, sehingga merusak pertanian. Said dan petani lainnya mengaku sudah berulangkali menanam padi dan jagung namun mati akibat terendam air laut.

“Arahannya dari Muspika, kita dianjurkan mencari solusi antara dua kepentingan, supaya tambak jalan dan petani juga jalan. Hanya saja, mencari titik temunya itu yang menjadi masalah sebab masing-masing diantara kita menghendaki kepentingannya yang lebih diutamakan,” kata Said bingung.

Sebagai wakil petani palawija, Said mempersilahkan usulan petani tambak untuk dibangun sekat. Tapi, dirinya sebagai petani meminta jaminan, bersyukur bila sukses namun bila tidak dan merugikan, lantas ke mana petani akan menuntut, Said meminta pemerintah desa dan kecamatan agar bersikap bijak dengan berdiri di tengan antara kedua belah pihak.

Said mengakui alotnya persoalan yang dihadapi sehingga pertemuan hari ini sampai deadlock, ini membingungkan dan memberatkan baginya bila diharuskan tanda tangan MoU. Apalagi, juga adanya persoalan sungai tanggul yang jebol tidak segera diatasi.

Said juga menyinggung masalah limbah yang mana kata dia menjadi kepentingan bersama baik petani palawija maupun petani tambak. Informasi yang diterima Said, tambak (PT Delta Guna Sukses) membuang limbah ke dalam kelep sehingga fungsi kelep sebagai penahan air laut menjadi dipertanyakan.

“Kalau fungsinya menahan air asin kenapa kelompok tertentu membuang air asin di dalam kelep dan limbah-limbah itu sendiri, kita tidak paham seperti apa yang melalui pengoperasian agar air itu menjadi tidak berbahaya tapi cerita teman-teman mereka sering dirugikan ikannya mati dan pertanian itu terimbas,” ucap Said jengkel.

Said juga mengajak petani semua apabila hendak melaporkan persoalan tersebut dirinya siap dengan bersama-sama dengan lebih dulu mencari bukti. “Kita pernah melaporkan tapi mereka meminta dibuktikan kapan itu dan jamnya serta bukti sampelnya,” terang Said.

Said juga menyinggung masalah dana Corporate Sosial Responsibility (CSR) yang dikeluarkan perusahaan tambak PT Delta Guna Sukses yang selama ini menurut Said asas kemanfaatannya kurang bagi petani, “PT Delta itu kan merupakan perusahaan yang besar selama ini CSR nya hanya berupa sembako dan pengobatan gratis, itu hal-hal yang tidak bisa memiliki dampak kepada kesejahteraan masyarakat khususnya petani. Tolonglah ke depan perbaikan irigasi atau bantuan kepada petani dan penambak bukan hanya sembako dan pengobatan,” tuntut Said geram.

Sementara itu, dari petani tambak, Chandra mengatakan sebagai penambak justru dirinya ingin kelep supaya dibuka agar ada pembangunan di depannya. Chandra mengaku sempat dibuat proposal oleh Camat. Tapi, setelah proposalnya selesai, dirinya justru di pingpong dengan alasan aliran sungai kewenangannya nasional.

Proposal tersebut, sambung Chandra, untuk diajukan ke PT Delta Guna Sukses. Dirinya meminta pihak PT Delta Guna Sukses supaya mendanai pembangunan kelep tersebut seratus persen. Namun, pihak perusahaan minta proposal sementara Camat enggan membubuhkan tanda tangannya.

“Kami lalu bertanya-tanya ada apa ini. Sementara PT Delta menginginkan harus ada proposal masuk baru bisa menggelontarkan dana, sekitar 400 juta sekitan yang kita ajukan, kita membutuhkan untuk pembangunan di empat titik, bila begini sampai ganti camat empat kali sekali pun tidak akan selesai. Kalau penyekatan itu terwujudkan sangat menguntungkan bagi petani tambak dan pulowijo sebab dalam kelep itu tidak ada lumpur lagi dan langsung terbuang ke laut,” jelas Chandra.

Chandra menjelaskan, selama ini akan menimbulkan masalah bila kelep ditutup sebab ada pembuangan limbah di wilayahnya, “Kalau ada instansi terkait itu tidak akan ada pembuangan limbah. Tapi, kenapa tambak masih membuang keluar dan itu baunya menyengat,” katanya.

Sekcam Kecamatan Gumukmas, Sudarsono menyampaikan bahwa pertemua hari ini belum menemukan satu kesepakatan yang bersifat final dan Danramil sudah memberikan solusi yang dapat dianggap paling solutif.

“Kita tidak berpihak kepada siapapun, kami memikirkan masyarakat secara keseluruhan baik petani palawija, petani tambak maupun pengusaha,” klaimnya.

Sudarsono berpendapat bahwa persoalan ini juga karena factor unsur alam akibat jebolnya tanggul sehingga sulitnya petani palawija mendapatkan air tawar kemudian rembesnya air laut sehingga merusak tanaman, pihak tambak pun menuntut kekurangan air laut, dan dua kepentingan ini saling berlawanan.

“Solusi dari Danramil, kelep yang sudah ditutup itu agar dibuka satu saja sambil lalu membangun sekatan, walaupun tidak semua menerima kami anggap itu solusi paling tepat,” ucapnya.

Setelah pertemuan antara petani tambak dan petani palawija belum menemuka solusi yang tepat, akhirnya perwakilan kedua belah pihak bersama-sama mendatangi kantor perusahaan PT Delta Guna Sukses untuk membicarakan perihal pembangunan kelep dan sekatan.

Setelah pertemuan berlangsung, sayangnya pihak PT Delta Guna Sukses tidak memberikan kepastian jawaban mampu memberikan sumbangan dana berapa atau mampu membangun kelep berapa titik.“Karena saya mempunya pimpinan pusat, kalau nanti sudah ada keputusan dari manajemen pusat baru kita tindak lanjuti kembali,” kata bagian produksi, Wahyu saat diwawancara Publis.id

Sebagai perwakilan PT Delta, Wahyu tidak bisa memastikan waktunya, hanya berjanji secepatnya akan memutuskan. Tadi, sambung Wahyu, sudah dijelaskan minimal minta dua titik pembangunan kelep, bukan semua menjadi beban tambak, terpenting tambak membantu.

Meski permintaan petani minimal dua titik, Wahyu belum bisa memastikan apakah bisa memberikan bantuan sekian sebab yang menentukan balai, “Kita tidak bisa kan asal bangun,” katanya.

Wahyu berharap, bila kepentingannya sudah diakomodir perusahaan, jangan ada permasalahan lagi sebab Wahyu mengklaim sudah 30 tahun di sana (PT Delta Guna Sukses) dan selalu habis masalah cari lagi masalah yang lain. Ketika Publis.id tanya berapa kali ada persoalan seperti ini, Wahyu menjawab baru dua kali ini.

“Sebenarnya tambak tidak ikut-ikut sebab itu masalahnya petani tambak dan petani kan kalau mereka harus nutup itu tidak bijak sebab ini pengairan umum semua, selama limbah saya tidak membahayakan lingkunagan dan RTRW di sini memang untuk pertambakan kalau RTRW bukan pertambakan ya kita tidak berani investasi sebesar ini. Initnya, kata Wahyu perusahaan tambak mendengar permintaan petani, baru nanti diajukan kepada manajemen dan nanti disampaikan hasilnya,” ungkapnya.

Disinggung masalah CSR, kata Wahyu tambak selama ini berusaha menurut pertimbangan tambak agar berguna bagi masyarakat, mulai bantuan pengobatan gratis, bantuan sembako yang sudah bertahun-tahun tapi memang tidak pernah diekspos dan juga renovasi rumah serta sarana dan prasarana.

Wahyu berpandapat, persoalan CSR yang disinggung oleh petani menurutnya persoalan klasik. Kata dia, yang berpendapat berbeda mungkin yang tidak mendapatkan sehingga bicara berbeda. (RF) 

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga