Minggu 02 Februari 2020

Rihlah, Mengenal Aliran Kepercayaan Sapta Darma di Ambulu

Oleh Redaksi, PUBLIS

Saat rihlah ke Sanggar Sapta Darma di Pontang, Doc: Istimewa

Di Desa Pontang, Kecamatan Ambulu, terdapat aliran yang cukup unik--namanya Sapta Darma. Aliran ini pertama kali lahir di Kediri, kemudian menyebar ke beberapa wilayah, termasuk Kabupaten Jember.

Untung adalah orang yang pertama kali mengenalkan Sapta Darma di Jember, di depan rumah Untung terdapat tempat beribadah bagi penganut Sapta Darma yang mereka sebut sanggar.

Sepeninggal Untung, ajarannya diteruskan menantunya--Tono, bersama istrinya Iis. Kedua pasangan ini memiliki lima putra yang masing-masing beragama beda.

Sapta Darma merupakan kepercayaan yang mempercayai bahwa semua agama adalah baik. Sehingga, putra-putra dari Tono dan Iis beda-beda agamanya. Meski demikian, tetap teguh pada ajaran keluarganya.

Tono dan Iis pasangan yang terbuka mengenai kepercayaannya, dia terbuka kepada siapa saja yang datang hendak bertanya-tanya tentang Sapta Darma--termasuk kepada kami siang ini, Minggu 2 Februari 2020.

Proses pencarian data, kami tidak terpaku kepada obyek sebagai pemberi data primer. Tapi, juga melengkapinya dengan data sekunder untuk menguji validitas data.

Bambang, keturunan Untung menyebut pengikut Sapta Darma dari warga sekitar jumlahnya mencapai 30 orang. Tetangga depan, menyebut hanya 10 orang, sementara tetangga sampingnya menyebut hanya 2 orang. Tapi, 1 orang sudah tidak aktiv sementara satunya lagi bernama Sujono sampai saat ini masih aktiv nimbrung di setiap kegiatan.

Ketiga sumber menyebutkan berbeda-beda, tidak bisa kami simpulkan secara srampangan. Sebab, rihlah yang kami lakukan waktunya singkat sehingga membutuhkan penambahan waktu untuk kembali menggali data dari sumber lainnya agar bisa menyimpulkannya dan menyuguhkan data yang lebih valid.

Cara beribadah penganut Sapta Darma hanya dengan bersujud meminta kepada tuhannya dengan menghadap ke timur. Cara beribadah mereka ini, rupanya menimbulkan sedikit persoalan bagi warga baru muslim yang tidak faham tentang Sapta Darma.

Pernah, kata tetangga sebelahnya, beberapa kali warga baru termasuk seorang TNI numpang sholat, mereka menghadap ke timur lantaran belum paham arah kiblat sehingga mengikuti ibadahnya penganut Sapta Darma. Meski dalam konteks fiqih sholat mereka sah, namun perlu diberi tau agar warga baru muslim tidak kembali keliru dalam beribadahnya di sana.

Dulu, pernah ada isu nasional terkait pengakuan aliran kepercayaan ini--termasuk aliran Sapta Darma, terkait pengakuan pemerintah di kolom E-KTP. Banyak terjadi pro dan kontra di kalangan tokoh, mereka yang menganggap perlu dicantumkan menuntut negara harus hadir kepada setiap warganya. Tapi, yang menolak berpendapat bahwa Sapta Darma bukan agama yang dilegalkan.

Aliran ini juga pernah mengalami masa kelam, saat Front Pembela Islam (FPI) membantainya di daerah Sleman, Yogyakarta. Mayatnya tidak diperbolehkan dimakamkan di makam umum lantaran dianggap penganut aliran sesat, sehingga dimakamkan di pekarangan rumahnya.

Nahdlatul Ulama sebagai ormas yang moderat sudah selayaknya hadir bukan sekedar melindungi golongan. Namun, juga bisa meredam konflik dan membela mereka yang minoritas sebagaimana Gus Dur mencontohkannya.

Penulis: Robith Fahmi
Pengurus LTNU Cabang Jember.

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga