Kamis 28 November 2019

Prediksi, Hanya akan Ada Tiga Cabub Pilkada di Jember

Oleh Redaksi, PUBLIS

Pilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Jember akan berlangsung 2020 mendatang, tepatnya bulan September. Namun, sejumlah nama sudah bermunculan beberapa bulan lalu bahkan sudah mengembalikan berkas formulir pendaftaran ke partai politik, tinggal menunggu keputusan pengurus pusat masing-masing parpol, kepada siapa rekomendasinya akan diberikan.

Syarat untuk bisa maju sebagai Calon Bupati (Cabub) paling tidak didukung oleh partai dengan jumlah perolehan kursi 10 di DPRD. Saat ini, tidak ada parpaol yang sampai memiliki 10 kursi, hanya Nasdem dan PKB yang memiliki kursi paling banyak, masing-masing 8 kursi, setelah itu disusul Gerindra dan PDI Perjuangan 7 kursi dan seterusnya.

Artinya, parpol tidak bisa mengusung calon seorang diri, harus koalisi dengan yang lainnya. Namun, info slentingan sana sini, beberapa parpol sudah mengamankan posisi wakil. Semisal, PKB dengan Ayub Junaidi, ketua Banser sekaligus mantan DPRD Jember, Nasdem David Handoko, mantan aktivis yang saat ini kembali terpilih sebagai anggota DPRD, PDI Perjuangan dengan sekretarisnya Bambang Wahjoe.

Sementara ini, nama-nama yang sudah mendaftarkan diri ke parpol sebagai Cabub, diantaranya Rasyid Zakaria ketua Lesbumi, Salam seorang pengusaha, Dima mantan ketua Panwaskab, Anis mantan ketua KPU, H. Sulis seorang pengusaha, H. Hendy seorang pengusaha, Joko Susanto mantan BPN Provinsi, dr. Faida yang saat ini masih sebagai Bupati Jember.

Sekian nama tersebut, ada tiga yang bersaing ketat dan kemungkinan akan mendapatkan rekomendasi parpol. Diantaranya Joko Susanto, H. Hendy dan incumben dr. Faida, ketiganya memiliki kans untuk bertarung menjadi orang nomor satu di Kabupaten Jember.

Alasannya, Joko Susanto yang notabene mantan BPN Provinsi, secara dana sudah siap. Bahkan, infonya Joko dikenal sebagai bakal calon yang loyal dibandingkan dengan yang lainnya, rekomendasi PKB kemungkinan besar akan jatuh padanya. Pada acara jalan santai yang dimotori PKB beberapa waktu lalu, DPRD Provinsi terpilih yang saat ini menjadi Menteri Desa (Mendes) Halem Iskandar mengangkat tangan Joko, sebagai penanda bahwa PKB sudah mengusung Joko di Pilkada 2020 mendatang.

Apalagi, Halem Iskandar masih saudara dengan ketua umum PKB, Muhaimin Iskandar. Ditunjuknya Halem sebagai menteri tidak terlepas dari peran Muhaimin, oleh sebab itu mudah saja bagi Halem untuk mengkomunikasikan dengan Muhaimin agar rekomendasi benar-benar jatuh pada Joko Susanto. Mengenai koalisi, sepertinya pengurus parpol Jember memfavoritkan Joko, sebab saat mendaftar ke Gerindra, PAC Nasdem se-Jember turut serta mengantarkannya.

H. Hendy seorang pengusaha yang infonya sudah meminang Gus Khozin, mantan Caleg DPR RI dari PPP tidak jadi, akan berangkat bersama Gerindra, kenapa Gerindra? infonya H. Hendy turut serta memberikan suntikan dana untuk Prabowo ketika menjadi Capres di Pilpres lalu, H. Hendy menyumbang dana untuk biaya kampanye di Jember. Apalagi, katanya H. Hendy kenal baik dengan Sandiaga Uno yang juga seorang pengusaha, tidak heran bila Pilpres lalu, Sandiaga mampir di Rien Collection, mall milik H. Hendy.

Tentu, dengan modal tersebut sudah lebih dari cukup untuk memprediksi bila rekomendasi Gerindra akan menjadi milik pengusaha kaya raya ini. Masalah koalisi, infonya Nasdem dan PAN akan turut mengambil peran, entah apakah hal tersebut hanya sebatas klaim saja atau bukan. Namun, Ra Fadil keluarga Al-Qodiri yang saat ini menjadi anggota DPR RI dari Dapil 4, berangkat dari Nasdem. Kemungkinan, bila info tersebut benar, ada peran Ra Fadil di sana.

Sementara incumben, dr. Faida MMR, diprediksi akan kembali mendapat rekom Nasdem meski H. Hendy mengklaim telah memegang rekomnya. Alasannya sederhana, dr. Faida adalah incumben, meski tidak menjamin incumben pasti menang, namun diakui atau tidak, incumben memiliki peluang besar untuk kembali duduk sebagai orang nomor satu di Jember. Koalisinya, entah apakah PDI Perjuangan akan kembali bersedia memadu kasih, melihat pengurus DPC PDI Perjuangan gencar mengkritik pemerintahan dr. Faida atau akan memilih orang lain.

Lalu, bagainana dengan calon yang lain yang sudah terlanjur mengeluarkan banyak uang untuk mencari dukungan dan membentuk tim. Dalam politik itu sederhana, semua bisa dikomunikasikan, mereka bisa komunikasi dengan calon yang sudah mendapatkan rekom, mengalihkan dukungan timnya, kemudian minta ganti biaya pembentukan tim dan ongkos ngeluyur selama ini, itu pun bila calon bersedia dan tim yang terbentuk mau. Sebab pilihan, kadang soal hati, bukan uang.

Penulis:

Robith Fahmi, Jurnalis di media online, guru MTs, Dosen dan orang tua yang baik.



Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga