Rabu 09 Juni 2021

Pesilat Diundang Bupati, PN Dukung Perguruan Anarkis Dibekukan, Ketua PSHT: Kita Tidak Mengajari Macam-Macam

Oleh Redaksi, PUBLIS

Foto undangan seluruh perguruan silat, Doc: Istimewa

PUBLIS.ID, JEMBER - Seluruh perguruan silat mendapat undangan dari Bupati Jember Hendy Siswanto untuk melakukan kesepakatan bersama seluruh perguruan se-Kabupaten Jember di Pendapa Wahyawibawagara pukul 13.00.

Menanggapi undangan tersebut, Ketua Perguruan Silat Pagar Nusa (PN) Jember, Fathorrosi saat diwawancaa via telephone mendukung keinginan Bupati Hendy untuk melakukan pembekuan terhadap perguruan yang melakukan aksi premanisme.

Sementara Ketua PSHT Jember, Jono Wasinuddin mengatakan, terkait undangan dari Bupati Jember dirinya belum tau isinya apa. Oleh sebab itu, pihaknya akan lebih dulu mendengarkan.

Jono yakin, pertemuan dengan bupati di Pendopo tersebut tidak akan membahas soal pembekuan perguruan. Namun demikian, Jono mengaku akan mengikuti alurnya dan tidak akan mempusingkannya.

Berbeda dengan sikap Jono sebelumnya, ketika hearing di DPRD, Ia tegas menolak menandatangani fakta integritas yang mana salah satu poin dalam klausulnya akan membekukan perguruan silat yang melakukan anarkis.

Jono mengklaim, bahwa PSHT selama ini tidak pernah mengajarkan macam-macam, "Kita cari kebahagian dunia dan akhirat mas ," pungkasnya kepada media via telephone, Selasa malam 8 Juni 2021.

Saat ditanya harapan PSHT pada pertemuan bersama bupati, Jono seolah bingung. Ia lantas menjawan NKRI harga mati, "SH Terate tidak mengajarkan macam-macam untuk berbuat baik, dan dipikir kalau pikirannya jelek ya nanti karmanya sendiri," jlentrehnya.

Ketua Pagar Nusa, Fathorrosi mendukung apa yang disampaikan Bupati Jember yakni apabila ada salah satu perguruan Pencak Silat yang melakukan gerakan premanisme dan berkali-kali maka bupati melakukan diskresi dengan melakukan pembekuan.

Menanggapi sikap Ketua PSHT menolak membubuhkan tanda tangannya di fakta integritas, Fathorrosi berkata bila itu adalah hak mereka hendak menandatangani atau tidak.

Namun, Fathorrosi mengingatkan bahwa korban yang di Panti sekarang lumpuh. Kata dia, pemerintah harus hadir memberikan bantuan, sebab masa depannya, anak-anaknya bagaimana. Padahal kejadian di Sukorambi itu istrinya sedang dalam kondisi hamil. 


"Waktu saya ke sana ekonominya menengah ke bawah sangat memperihatinkan dan tidak bisa mencari nafkah sehingga membutuhkan uluran dan perlindungan bukan hanya fisik saja tapi kehidupannya," tuturnya.

Fathorrosi menyebut Pagar Nusa bagian dari NU. Dan, NU terbesar se-Indonesia serta tidak pernah melakukan aksi premanisme. "Kalau di Pagar Nusa itu persaudaraan bukan hanya seperguruan tapi ada persaudaraan sesama NU, sebangsa Indonesia dan persaudaraan antar perguruan Pencak Silat," ungkap Fathorrosi.

Reporter: Mehmed
Publiser: Ammar

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga