Minggu 21 Juni 2020

Menjadi Pemilih Merdeka

Oleh Redaksi, PUBLIS

Ilustrasi merdeka menentukan sikap, Doc: Diambil dari Ladyblogging.com

Memilih pemimpin itu sederhana, sesederhana memasang kolor dan mengikat talinya agar tidak melorot, menuju ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan coblos sesuai dengan pilihan hati yang dianggap mampu membawa perubahan, mudah. Tapi, bagi segelintir orang, memilih rupanya tidak sesederhana itu, bagi mereka memilih adalah perkara yang sulit, sebab banyak pertimbangan.

Pertama, segelintir orang memilih lantaran terikat dengan ikatan saudara, sementara hati cenderung kepada sosok lainnya daripada saudaranya sendiri. Namun, akibat desakan keluarga, paman, kakek, nenek, ayah, ibu, ibu mertua, ayah mertua hingga akhirnya harus mengubur pilihannya dalam-dalam dan menuruti permintaan keluarga besarnya.

Kedua, segelintir orang memilih karena faktor guru. Biasanya, sosok kyai menjadi acuan untuk memilih, kata orang madura "Apa Kata Kyai". Meski sebenarnya telah memiliki pilihan, namun karena kyai atau gurunya mendukung salah satu calon tertentu, bahkan memberikan instruksi supaya memilih calon yang didukungnya, hingga akhirnya memilih sesuai dengan instruksi guru atau kyainya.

Ketiga, adalah segelintir orang pragmatis, mereka memilih bukan karena keinginan hati melainkan karena faktor uang. No Money No Way, segelintir masyarakat ada yang demikian, tidak peduli figur seperti apa yang akan dipilihnya, entah preman atau pun kelompok aligarki, asalkan mendapat bagian serangan fajar, pilih saja.

Masih banyak alasan lainnya yang meribetkan bagi mereka, sekedar untuk memilih. Mereka adalah orang-orang yang tidak merdeka, sekedar untuk menentukan pilihan ribetnya seolah seperti mengurus negara. Bahkan, ketika menuruti kemauan orang lain, saat yang dipilih terpilih, tidak akan peduli dengan isi dapur, tidak akan peduli pampers anaknya sisa satu.

Namun, disaat memilih atas kehendak pribadi, atas penilaian sendiri, atas inisiatif sendiri, bakalan puas. Ketika yang dipilih menjadi pemimpin yang amanah, maka juga akan mendapat pahala kebaikannya demikian pula sebaliknya. Dibandingkan memilih bukan kehendak hati kemudian menjadi pemimpin yang dzolim, sungguh miris.

Konon, demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Oleh sebab itu, jadilah pemilih yang merdeka, semerdeka demokrasi mengartikan dirinya adalah rakyat. Jangan menjadi pemilih pesakitan, ibarat orang terserang stroke, sekedar mau buang air besar masih perlu dibopong.

Salam merdeka.

Penulis: Mehmed
Orang biasa yang hobynya nonton Drama Korea.

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga