Selasa 17 Desember 2019

Mempertanyakan Kontribusi Pendamping Desa

Oleh Redaksi, PUBLIS

Salah satu BUMDes di Malang

Beberapa hari ini, berita seputar desa menjadi topik hangat dibicarakan--khususnya tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sedikitnya BUMDes yang berhasil meningkatkan Pendapatan Desa (PAD) menjadi salah satu faktor paling utama bagi publik untuk mempertanyakan kontribusi Pendamping Desa (PD) maupun Pendamping Lokal Desa (PLD) hingga Tenaga Ahli (TA).

Bila searching di google, Dana Desa yang paling banyak menyedot APBN rupanya hanya mampu menjadikan segelintir desa lebih mandiri, sebagaimana Desa Ponggok yang sukses menjadikan BUMDes menyetor ke PAD melebihi DD maupun ADD. Selain Desa Ponggok, masih ada beberapa desa lagi, namun demikian tidak sebanding dengan jumlah desa di seluruh Indonesia.

Keberadaan Pendamping Desa yang salah satu tugasnya pendampingan pengembangan usaha ekonomi desa dan peningkatan kapasitas pemerintah desa. Sejauh ini, masih belum terlihat hasilnya, minimnya inovasi dari perangkat desa berimbas pada pengelolaan BUMDes yang terkesan asal buat tidak memikirkan bagaimana BUMDes mampu meningkatkan kemandirian desa.

Perangkat desa yang dihuni oleh orang-orang yang seharusnya di reshuffle sebab tidak menumbuhkan iklim membangun di desa menjadi salah satu faktor kegagalan pendamping desa melakukan pendampingan dan memberi masukan kepada pemerintahan desa.

Pemerintah perlu kembali memikirkan keberadaan pendamping desa, diperkuat posisinya atau melakukan perampingan dengan cukup menempatkan PLD dan TA sebab keberadaan PD di tingkat kecamatan kurang berperan dan terkesan hanya menghabiskan anggaran negara untuk menggajinya. Juga perlu adanya pengawas pendamping agar tetap berjalan on the track. Bisa juga, menghapus PD dengan merubahnya menjadi pengawas pendamping namun tidak dalam struktur.

Keberadaan pengawas pendamping desa amat penting supaya pendamping menghindari untuk terlibat permainan proyek serta pendamping yang pasif sehingga minim kontribusi pada kemajuan desa. 

Penulis

Robit, anggota Karang Taruna yang sudah demisioner.

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga