Senin 28 November 2022

Dilematis Demokrasi Konfercab Jember ke-44

Oleh Redaksi, PUBLIS

Doc: Isna Asaroh

Konferensi Cabang (konfercab) merupakan wadah adu gagasan, ide dan pemikiran yang didasari oleh semangat demokrasi. Hal ini untuk menunjukkan pelaksanaan permusyawaratn tertinggi di tingkatan Regional (Cabang) PMII. Dimana, Konfercab merupakan bagian dari amanah Organisasi PMII yang tertuang dalam hasil Muspimnas tentang Pedoman Penyelenggaraan Permusyawaratan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Selain itu, Konfercab ditujukan sebagai regenerasi kepemimpinan untuk membawa peradaban PMII ditingkatan cabang menjadi lebih progresif dan massif.

Dalam momentum Konferensi Cabang PMII Jember ke-44 kali ini, Badan Pekerja Konfercab (BPK) telah menetapkan tiga nama calon Ketua Cabang PMII Jember, dimana ketiganya merupakan representasi kader terbaik Jember. Adapun tiga nama yang dimaksud adalah:
1. Bayu Wicaksono
2. Joni Wibowo
3. Sony S. Prasetyawan

Ketiga calon Ketua Cabang PMII diatas membawa gagasan masing-masing untuk keberlangsungan PMII Cabang Jember kedepan yang lebih baik melalui visi dan misinya. Gagasan yang dimaksud antaranya:
Calon 1 : PMII Jember sebagai kolaborator Pemberdayaan yang inklusif dan progresif
Calon 2 : PMII Jember maju dan berkarakter
Calon 3 : Mewujudkan PMII Jember sebagai katalisator unggul berbasis multicultural movement.

Melihat gagasan calon-calon ketua cabang PMII diatas, tentu dapat dikategorisasikan sebagai gagasan yang luar biasa untuk kemaslahatan PMII Jember. Namun, dalam momentum konfercab kali ini sedikit memunculkan keresahan dan kegelisahan. Dimana, ketika kita melihat ke belakang ketiga calon ternyata memiliki kesamaan background kelembagaan yakni berasal dari Komisariat Universitas Jember.

Tentu ini bukan masalah yang besar selama calon memiliki basis sumber daya yang unggul dan kemampuan kepemimpinan serta kapasitas yang cukup untuk membawa PMII Jember yang lebih baik dalam berbagai hal. Baik kelembagaan, kaderisasi, advokasi, keilmuwan, keagamaan, dan lainnya. Tetapi, jika ditilik kembali secara politis  ini memunculkan sebuah dilematis dalam demokrasi.

PMII Jember memiliki sepuluh kelembagaan Komisariat yang tercatat didalamnya, meliputi: Komisariat Universitas Jember, Komisariat UINKHAS Jember, Komisariat Politeknik Negeri Jember, Komisariat Mandala Jember, Komisariat UNMUH Jember, Komisariat Univ. Islam Jember, Komisariat IAI Al-Qadiri, Komisariat UNIPAR Jember, dan Komisariat INAIFAS Kencong-Jember. Serta satu komisariat yang baru terhitung satu tahun berjalan yakni Komisariat STIS Nurul-Qurnain Jember.

Sepuluh lembaga bukan jumlah yang sedikit dan seharusnya setiap lembaga mempunyai kesadaran untuk distribusi kader seluas-luasnya, termasuk di tataran Cabang. Lantas, mengapa hanya satu lembaga yang beradu dalam Konfercab Jember kali ini?

Pertanyaan semacam itu kerap terdengar baik di wilayah basis (Anggota rayon) ataupun eksternal (Kader PMII luar Jember). Seolah PMII Jember mengalami degradasi dalam wilayah kepimpinan dan tidak dapat menghadirkan warna bagi proses demokrasi. Padahal dalam tataran kelembagaan, PMII Jember dipandang menjadi salah satu Cabang progresif dalam geraknya baik kaderisasi maupun advokasi. Bahkan tak jarang, PMII Jember digadang-gadang menjadi Patronase kelembagaan oleh cabang-cabang lainnya.
Maka berangkat dari keresahan ini, PMII Jember mempunyai PR besar kedepan untuk kembali membangkitkan ghirah kepemimpinan kader-kadernya. Tentu hal inipun menjadi titipan tugas bagi ketua Cabang terpilih kedepan. Siapapun Ketua PMII cabang Jember terpilih harus mampu memberikan pendidikan demokrasi dan kepemimpinan untuk kader-kader Jember. Hal ini bukan tanpa alasan, dengan momentum konfercab yang hanya pertarungan satu lembaga seolah menghadirkan opini bahwa lembaga yang lainnya gagal membentuk kader yang unggul dan mumpuni dalam wilayah kepimpinan. 

Selain itu, dalam Konfercab ke-44 ini Lembaga-lembaga dibawah naungan PMII Jember sudah seharusnya mulai men-intropeksi kelembagaannya untuk juga berperan dalam wilayah kepemimpinan di Jember. Tidak ada istilah lembaga kecil, lembaga muda, atau lainnya. Namun, semangat Pembangunan melalui kaderisasi PMII dengan mencetak kader-kader yang unggul termasuk dalam hal kepemimpinan sedikitnya berani bertarung di momentum pemilihan ketua Cabang. Sebab, salah satu bentuk keberhasilan kaderisasi adalah pendistribusian kader yang merata.

Semoga dari tulisan ini, kita sebagai keluarga besar PMII yang dibesarkan dengan asas ke-Islaman dan ke-Indonesiaan mampu menjadikannya refleksi untuk keberlangsuangan PMII kedepan. Supaya, di Konfercab tahun-tahun selanjutnya tidak ada lagi frasa “RTK berkedok Konfercab” dan semacamnya. Tulisan ini murni dari opini penulis, tidak ada indikasi untuk menyudutkan per-orangan atau suatu kelembagaan.

Penulis: Isna Asaroh

Redaksi

Publis.id berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga