Senin 08 Juni 2020

Cerita DP3AKB Jember Dampingi Bocah Pecandu Game Online dan Sempat Mulung

Oleh Redaksi, PUBLIS

Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Jember drg Nur Cahyohadi, Doc: Fahmi/Publis.id

PUBLIS.ID, JEMBER – Beberapa waktu lalu, Jember digemparkan dengan berita penyekapan seorang anak oleh ayahnya sendiri di kandang ayam tanpa menggunakan sehelai pakaian, anak tersebut berhasil melarikan diri ke Danramil hingga kemudian diserahkan ke kepolisian.

Kasus tersebut kemudian menjadi perhatian publik sehingga membuat Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember diminta untuk membuat laporan oleh Kemenkumham dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Kabupaten Jember, drg Nur Cahyohadi mengatakan, sebelum membuat laporan, DP3AKB meminta seorang psikolog Nuraini Kusumaningtyas S.Psi, M.Psi untuk secara spesifik mendampingi dan menentukan siapa hak asuhnya, Senin 8 Juni 2020.

Kata dia, kedua orang tuanya berpisah, ayahnya menikah lagi. MI adalah anak ke 3 dari empat bersaudara, kakak pertamanya sudah hidup mandiri di Lamongan. Sementara MI dan 2 saudaranya oleh ibunya RMY diserahkan ke EW suaminya. Tapi, karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan akhirnya diserahkan ke kakek dan neneknya.

Entah bagaimana ceritanya, Kakak MI, saudara nomer 2 pindah ke Jember tinggal bersama RMY sebagai ibu kandungnya. Selama itu, MI dan kakaknya masih komunikasi, kakaknya menceritakan kondisi tinggal di Jember yang nyaman sehingga membuat MI tertarik dan melarikan diri dari Blitar naik bus ke Jember.

MI baru berusia 12 tahun, duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar, bocah kelahiran 10 April tahun 2007 tersebut tinggal di Desa Sukorambi, Kecamatan Sukorambi, Jember.

Nur Cahyohadi menjelaskan bila sebenarnya ayahnya kemungkinan tidak berniat untuk melakukan penyekapan, setelah ketahuan main game, EW mengikat kaki anaknya ke tiang di kandang ayam juga mengikat jempolnya, EW berniat memandikannya.

“Tapi, EW terburu-buru mengantarkan istrinya yang berdagang sehingga lupa bila anaknya sedang diikat di kandang ayam. Karena ikatannya tidak kencang sehingga MI melarikan diri ke Danramil hingga kemudian oleh Danramil diserahkan ke kepolisian, sejak itu beritanya menjadi viral sebab berbunyi penyekapan meski sebenarnya tidak lama diikat di kandang ayam,” jelas Nur Cahyo.

Informasi yang diterima Nur Cahyo, EW sudah bebas dari tahanan. Meski demikian, kata dia, DP3AKB tidak memberikan bantuan dalam bentuk apapun, murni hanya pendampingan sebab keluarga MI adalah keluarga mampu.

Masih Nur Cahyo, pendampingan yang dilakukan mulai menyediakan psikolog hingga berkoordinasi dengan Dispendik supaya MI bisa mengikuti Ujian Nasional sebab MI sudah duduk di bangku kelas 6 SD.

Setelah itu sebenarnya DP3AKB sudah selesai. Namun, beberapa minggu lalu kembali mendampi untuk mengurus dokumen di Dispendukcapil. MI sendiri masih tercatat di Blitar, karena anaknya memilih sekolah di Jember hingga DP3AKB kembali mendampinginya. Apalagi, kata dia, sekolah saat ini diterapkan sistem zonasi.

Hasil kerja keras DP3AKB, sambung Nur Cahyo, akhirnya mendapat apresiasi dari Kemenkumhan dan Kementeria PPA, “Itu suatu kebanggaan buat pimpinan di sini bahwa kegiatan kita diakui oleh lembaga yang lebih tinggi,” tuturnya.

Menurutnya MI adalah anak yang cerdik dan pinter. Terbukti, setelah dia sempat hilang pertama dari rumahnya ditemukan di tempat game, sempat hilang lagi dan ditemukan di pos kamling sedang mulung dalam keadaan tidak karu karuan, “Waktu itu dia pegang uang 150 ribu dari mulung,” ujar Nur Cahyo.

Meski Nur Cahyo menilai cerdik seorang anak bisa menghasilkan uang. Tapi, tetap mengacu pada prinsip kepentingan terbaik untuk anak, sebab dia sudah kelas 6. Jadi itu yang difokuskan agar bisa sekolah kembali. (RF)

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga