Sabtu 27 Juni 2020

Agen di Desa Curahmalang, Jember Diduga Sunat Bantuan BPNT Perluasan

Oleh Redaksi, PUBLIS

Toko Sunari Hidayat yang dijadikan agen untuk pengambilan bantuan BPNT, Doc: Fahmi/Publis.id

PUBLIS.ID, JEMBER – Penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) perluasan di Dusun Jogaran, Desa Gumelar, Jember, merasa kecewa lantaran bantuan yang diterimanya diduga disunat pihak agen sebab harga barang tidak sesuai dengan nilai bantuan.

“Katanya di ATM itu isinya 600 ribu untuk 3 bulan. Tapi, kok setelah diwujudkan dalam bentuk barang hanya dapat sekian,” ujar Nasuwi, salah satu penerima BPNT Perluasan, Sabtu 27 Juni 2020.

Kata Nasuwi, bantuan yang diterimanya setelah dicairkan dalam bentuk barang ke agen yang terletak di Desa Curahmalang, hanya berupa beras 40 Kg, telur 1,5 Kg dan jeruk 1,5 Kg.

Padahal, kata Nasuwi, agen lainnya berdasarkan yang ia ketahui dari penerima BPNT lainnya, mendapatkan beras 50 Kg, telur 2 Kg dan buah 2 Kg. Setelah dihitung, barang yang diterimanya bila dirupiahkan tidak sampai 600 ribu atau 200 ribu per bulan.

Nasuwi bertanya-tanya, apakah memang setiap agen berbeda-beda. Ia mengaku terpaksa harus mencairkan ke agen di Desa Curahmalang tersebut lantaran diarahkan oleh petugas yang diduga Pekerja Sosial Masyarakat (PSM).

“Waktu mau mencairkan, dipegang oleh orang itu kartunya. Sekarang kartunya sudah dikembalikan. Bantuannya kan selama 3 bulan, saya juga ada uang kembalian 20 ribu,” terang Nasuwi.

Nasuwi merasa curiga dengan pencairan di agen tersebut sebab dirinya menerima nota yang ditulis tangan. Sementara penerima BPNT lainnya dari agen yang berbeda menerima nota gesek dari mesin edc.

“Masak hanya diberikan nota tangan, tidak ada nota dari hasil gesek itu, padahal di agen lain ada nota gesek, bukan hanya saya tapi yang lainnya juga sama seperti saya utamanya di Dusun Jogaran,” ucap Nasuwi kecewa.

RT setempat, Slamet Budiono mengaku tidak mengetahui secara pasti sistem bantuan BPNT. Namun, ia turut mengawal saat proses pembagian kartunya, hanya sebatas mengawal tidak diberi penjelasan mekanisme pencairannya.

“Taunya dari penerima bahwa di dalamnya ada tunjukan agen tempat mengambil. Setelah itu, ketika hendak mencairkan ada warga mengarahkan ke agen sana (agen Curahmalang) bahwa harus mengambil ke agen tersebut,” kata Slamet.

Slamet tidak curiga, Namun, setelah bantuan itu datang, hanya dapat 40 Kg, telur 1,5 Kg dan buah 1,5 Kg. Semula tidak ada persoalan, tetapi setelah penerima BPNT lainnnya mengambil ke agen lain mendapatkan 50 Kg beras dan telur 2 Kg serta buah 2 Kg, baru protes.

“Ada kembalian 2 ribu tapi tidak boleh diambil uang, harus diambil barang dan harus habis. Mendengar itu, warga ke saya kok tidak sama dengan yang agen itu. Saya pun mengajak ke agennya dan menanyakan bantuannya yang hanya sekian," ucapnya.

“Mereka (agen) menjawab iya. Saya bilang, katanya 1 bulannya 200 ribu kalau 3 bulan 600. Saya tanyakan harga berasnya sekitar 11 ribu terus telur 25 ibu dan jeruk 10 ribu, saya total ternyata tidak nyampek 600 ribu, saya tanyakan sisanya kemana,” tanyanya.

Slamet menirukan yang disampaikan agen “Lah, gini mas kalau nominalnya ada 600, pihak toko oleh bank ada pajak admin 15 ribu dikalikan 3 jadi 45 ribu,” RT kemudian kembali menjumlahnya, rupanya masih tidak sampai 600 ribu.

Mereka, kata Slamet, kembali menjelaskan bahwa toko harus ada laba. Setelah dijumlah lagi baru kemudian sesuai sampai 600 ribu. Setelah pulang, Slamet kembali mendengar dari agen lain bahwa total bantuan 200 ribu harus dicairkan semua dalam bentuk barang hingga 0 rupiah.

“Kemudian setelah digesek struknya diberikan ke penerima bantuan, kata agen lain penerima harus dapat struk sebagai bukti. Akhirnya, saya kembali lagi ke warung minta struk, setelah ditanyakan katanya tidak bisa karena keluarnya satu untuk agen untuk melaporkan ke bank,” ungkapnya.

Setelah memaksa pihak agen, sambung Slamet, baru memberikan struk namun berupa nota tertulis biasa yang di stempel agennya.

Sementara itu, pemilik toko yang dijadikan agen, Sunari Hidayat mengatakan, terkait biaya admin 15 ribu dirinya membenarkan, “Ada margin15 ribu adalah wajar, tidak ada admin bank, saya tidak mengeluarkan nota admin, segitu untuk operasional saja kita ngantar-ngantarkan,” kata Sunari.

Sunari berdalih pemotongan 15 ribu tersebut untuk biaya antar beras ke rumah penerima, “Cuman yang ngantarkan saja. Anggap saja sukarela ambilkan dari situ,” jelasnya.

Terkait ada uang pengembalian, Sunari mengaku tidak tau. Sunari mengklaim bila menangani 300 KPM tidak ada persoalan, “Penting saya sudah mengeluarkan sesuai dengan barangnya, itu ya sudah kan begitu,” kata dia.

Sunari pun mengakui bila tidak ada struk yang dari edc, hanya struk tulis tangan. “Kalau struk seperti itu kan harus habis, sistemnya terserah dari orangnya, ngambilnya berapa bulan, apa 1 bulan apa 3 bulan,” jawabnya ceplas ceplos.

Sementara untuk telur dan jeruk yang diterima penerima hanya 1,5 Kg tidak sampai 2 Kg, Sunari mengaku hal itu wajar, “Itu wajar saja pak itu 1,5 Kg. Padahal 2 Kg, kalau kurang kembalikan ke sini, mereka membandingkan dengan agen yang di sana. Di sini kan tidak saya cek,” dalihnya dengan raut wajah bingung. (RF) 

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga