BRI Raup Laba Rp31,2 Triliun, 75% Kredit Mengalir ke UMKM

Oleh
Robith Fahmi - Tim Redaksi
5 Menit Membaca

PUBLIS.ID, JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI membukukan laba bersih Rp31,2 triliun hingga akhir Triwulan II 2026. Laba BRI Group tersebut tumbuh 17,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Kinerja positif itu dicapai di tengah dinamika ekonomi dan industri perbankan. Pertumbuhan laba BRI ditopang ekspansi kredit, peningkatan pendapatan bunga, efisiensi, serta perbaikan kualitas aset.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan pertumbuhan bisnis perseroan mulai kembali menguat. Namun, dia menegaskan pertumbuhan tersebut tetap dibarengi prinsip kehati-hatian.

“Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia,” ujar Hery dalam pemaparan kinerja BRI di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Kredit Tumbuh 16,2%

Hingga akhir Juni 2026, total aset konsolidasian BRI mencapai Rp2.352 triliun. Angka tersebut tumbuh 11,7 persen secara tahunan.

Kredit dan pembiayaan BRI Group tumbuh lebih tinggi, yakni 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen.

Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 9,9 persen dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun.

Adapun Pre-Provision Operating Profit (PPOP) naik 12,8 persen menjadi Rp65,7 triliun.

Hery mengatakan pertumbuhan tersebut merupakan bagian dari dampak transformasi BRI melalui BRIVolution Reignite.

“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” katanya.

Kredit UMKM Rp1.235,4 Triliun

Di tengah pertumbuhan kredit secara keseluruhan, UMKM masih menjadi sektor utama pembiayaan BRI.

Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit BRI kepada UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun. Angka tersebut tumbuh 8,6 persen secara tahunan.

Porsi kredit UMKM mencapai 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.

Hery mengatakan diversifikasi bisnis BRI tidak mengubah posisi UMKM sebagai bisnis inti perseroan.

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Selain kredit, BRI menjalankan sejumlah program pemberdayaan UMKM. Hingga Juni 2026, Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan.

Program Klasterku Hidupku menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha. Sementara platform digital LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM.

Pendampingan melalui Rumah BUMN juga telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.

KUR BRI Capai Rp103,8 Triliun

BRI juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang Januari hingga Juni 2026. Total penyalurannya mencapai Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.

Jika dihitung secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.

“Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Hery.

Kualitas Kredit Membaik

Pertumbuhan bisnis BRI juga dibarengi perbaikan sejumlah indikator fundamental.

Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada Triwulan II 2026.

Cost to Income Ratio (CIR) juga membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen. Sementara rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3 persen menjadi 2,9 persen.

Cost of Credit (CoC) turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Return on Asset (ROA) BRI berada di kisaran 2,7 persen. Adapun Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen menjadi 18,8 persen.

Menurut Hery, perbaikan indikator tersebut menunjukkan pertumbuhan BRI tidak hanya mengejar besaran laba dan kredit, tetapi juga menjaga kualitas bisnis.

“Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” ujar Hery.

Hery mengatakan BRI akan terus memperkuat bisnis inti sekaligus mencari sumber pertumbuhan baru. Menurut dia, UMKM tetap menjadi fondasi meski perseroan melakukan diversifikasi bisnis.

“Keberhasilan BRI tidak hanya kami ukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Bagikan Artikel ini
Exit mobile version