Kamis 02 November 2017

Sultan Johor Haramkan Mufti Menk dan Haslin bin Baharim

Oleh , PUBLIS

Mufti Menk (kiri), Haslin Baharim (kanan) telah dilarang masuk dan berceramah di Singapura serta Johor Baru. (FOTO: YOUTUBE)

PUBLIS.ID, Johor Baru - Dua pengkhotbah Mufti Ismail Menk dan Haslin bin Baharim telah dilarang memasuki Johor, sehari setelah wakil perdana menteri Malaysia mengatakan bahwa pemerintah tidak bermaksud untuk mencegah para pembicara tersebut memasuki negara tersebut.

Ketua Komite Urusan Agama Islam Johor Abdul Mutalip Abdul Rahim mengatakan bahwa Sultan Johor telah memutuskan pada hari Rabu (1 November 2017) bahwa Menk (Zimbabwe) dan Baharim (Malaysia) tidak akan diizinkan untuk berkhotbah di wilayah Johor, lapor kantor Berita Harian Malaysia. 


Iklan2


"Isi pembicaraan yang sebelumnya disampaikan oleh kedua pembicara tersebut kemungkinan akan membawa gangguan pada harmoni rasial," kata Abdul Mutalip.

"Departemen Agama Islam Johor akan terus memantau pembicaraan agama di masa depan di Johor, untuk memastikan bahwa tidak ada unsur atau pandangan yang mempromosikan perpecahan rasial akan disampaikan," tambahnya.

 

 BACA JUGA:

Mufti Menk Dilarang Masuk dan Berceramah di Singapura

Kepolisian China Larang Muslim Uighur Simpan Sajadah dan Al-Quran


Pada hari Selasa sebelumnya, Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi mengatakan bahwa para pengkhotbah tidak melanggar undang-undang atau mengatakan apapun yang dapat menyebabkan konflik di masyarakat.

Keputusan ini juga berlaku dua hari setelah para pengkhotbah dilarang memasuki Singapura. Kementerian Dalam Negeri negara tersebut mengatakan "pandangan memecah belah" duo tersebut akan "merusak keselarasan sosial dan menyebabkan masyarakat terbelah".

Dewan Cendekiawan Islam di Zimbabwe sementara itu mengeluarkan sebuah pernyataan pada hari Selasa yang mengatakan bahwa tuduhan terhadap Menk adalah "persepsi yang tidak akurat".



"Kami mengetahui klip video yang diedit dengan potongan sangat pendek digunakan untuk membuktikan tuduhan terhadap mufti kami," kata pernyataan yang dipublikasikan di akun Instagram Mufti Menk.

"Kami ingin mencatat bahwa Mufti Menk tidak pernah melarang orang lain memberikan ucapan yang baik selama Hari Raya mereka, namun dia yakin bahwa kata-kata itu harus inklusif untuk memastikan hal itu sesuai untuk semua orang. Menurut pendapatnya, salam seperti Selamat Hari Raya, Selamat Hari Libur, Selamat Hari Bahagia itu tak mengapa diucapkan."

Untuk diketahui Mufti Menk mendadak menjadi kontroversi setelah dia berkhotbah bahwa adalah dosa terbesar bagi seorang Muslim untuk mengucapkan selamat hari raya Natal dan selamat hari raya Deepavali.

Baca Juga