Minggu 15 April 2018

Sederet Persoalan di Suriah Hingga Serangan Amerika dan Sekutu

Oleh Redaksi, PUBLIS

Ilustrasi dari Google

PUBLIS.ID, SURIAH – Sederet persoalan di Suriah memicu ketegangan dari beberapa negara, utamanya Amerika dan sekutu yang sedari awal mengecam agresi militer Suriah pada warga sipil di Ghoutama Timur. Namun, Pemerintah Suriah dan sekutu, Rusia dan Iran berdalih, serangan tersebut untuk menumpas kelompok pemberontak.

Kelompok Oberservatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (HAM), Kamis (22/2), mencatat, dari serangan selama lima hari di Ghouta timur telah menyebabkan lebih dari 400 orang tewas. Jumlah tersebut tak hanya mencakup orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

“Lima hari serangan udara dan tembakan artileri yang intens dilakukan oleh rezim pemerintah dan sekutunya, Rusia, dan membunuh 403 warga sipil, termasuk di dalamnya 95 anak-anak,” kata Observatorium Suriah untuk HAM dalam sebuah pernyataan.

Kelompok oposisi Suriah, yakni Koalisi Nasional Suriah, mendesak PBB mengambil tindakan untuk mengakhiri kekerasan di Ghouta timur. Menurut mereka, ini adalah bukti kebiadaban Presiden Bashar al-Assad dan sekutunya, yaitu Rusia dan Iran. “Kami mendesak PBB untuk segera menghentikan genosida sistematis di Ghouta timur oleh rezim Assad serta milisi yang didukung Iran dan Rusia,” kata Wakil Ketua Pasukan Oposisi dan Koalisi Revolusi Suriah Selva Aksoy pada Jumat (23/2).

Sementara Persatuan Bangsa-Bangsa, sebagaimana dikutip dari media ternama, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengomentari eskalasi kekerasan di Ghouta timur. Menurut dia, daerah tersebut tak ubahnya seperti "neraka" di muka bumi. “Saya serukan kepada semua pihak yang berperang agar menghentikan pertempuran sesegera mungkin,” katanya.

Beberapa hari yang lalu, Suriah kembali melancarkan serangan ke Ghoutama Timur, sejumlah pihak mengklaim Suriah menggunakan senjata kimia yakni dengan gas beracun. Namun, Bashar Al-Assad menjawab tudingan itu tidaklah benar. Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) hari Sabtu (7/4/2018) pada sejumlah media mengatakan akan terus melakukan penelitian secara rahasia terkait penggunaan senjata kimia di Suriah.

Sebelum OPCW mengungkapkan fakta-fakta, Amerika yang didukung sekutu Inggris dan Prancis meluncurkan serangan ke Suriah, rudal ditujukan ke pusat ibu kota Suriah di Damaskus, diantaranya tempat penyimpanan senjata dan pusat pertahanan Suriah. Sejumlah negara mendukung serangan tersebut, salah satunya dari Arab Saudi.

Sementara Rusia dan Iran yang sejak awal menjadi sekutu Rusiah mengecam serangan tersebut, Presiden Rusia Vladmir Putin mengatakan, Amerika telah menyalahi peraturan hukum internasional dan serangan tersebut secara tidak langsung melecehkan DK PBB.

Sampai detik ini, Amerika belum merencanakan untuk melakukan serangan susulan ke Suriah. Namun, presiden Trump memastikan akan kembali menyerang apabila Suriah kembali menggunakan senjata kimia pada sipil. 

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga