Senin 25 Juni 2018

Pasokan Melimpah dari Filipina jadi Biang Kerok Terhambatnya Ekspor Kelapa Kabupaten Inhil

Oleh Redaksi, PUBLIS

Saat rapat koordinasi / Doc Rhama Melo

PUBLIS.ID, INHIL - Bupati Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), H.M. Wardan menyebut pasokan melimpah dari Filipina menjadi faktor penghambat ekspor kelapa Kabupaten Indragiri Hilir. Pasalnya, meski kualitas kelapa asal Filipina terbilang kualitas standar namun Filipina berhasil 'merebut' pangsa pasar yang selama ini menjadi tujuan ekspor kelapa Inhil.

Pernyataan H.M. Wardan tersebut muncul menyusul fenomena anjloknya harga kelapa belakangan ini. "Hal ini lah yang membuat kita kalah dalam persaingan pasokan kelapa ke luar negeri. Padahal sejak 2013, ekspor kelapa Inhil ke negara - negara jiran, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand begitu tinggi. Sekarang permintaan itu malah turun drastis," ujar Wardan saat rapat koordinasi membahas stabilitas harga kelapa, Tembilahan, Senin (25/6/2018) siang.

Wardan mengisahkan, 5 tahun silam, tepatnya pada tahun 2013, kawasan perkebunan di Filipina diterpa bencana angin bahorok yang meluluhlantakkan ribuan hektare pohon kelapa disana. Pasca bencana itu, disebutkan produksi kelapa Filipina merosot tajam. Ini membuat kelapa Inhil mendapatkan pangsanya di negara tetangga.

Tidak berapa lama setelah bencana yang menimpa kawasan perkebunan kelapa Filipina, masyarakat petani di sana melakukan replanting atau penanaman kembali. "Sekarang, replanting itu telah menghasilkan, kelapa - kelapa di Filipina telah memasuki usia produktif dan menghasilkan kelapa - kelapa dengan kualitas standar sehingga pangsa pasar yang sempat dikuasai Inhil kembali direbut," ungkapnya.

Minimnya permintaan tidak berbanding lurus dengan banyaknya penawaran. Wardan mengaku pernah berdialog dengan direksi PT Pulau Sambu Guntung (PSG) bahwa saat ini pasokan perusahaan industri pengolahan kelapa itu sudah melampaui batas kebutuhan, "Saat Saya tanyai pihak perusahan mengatakan membutuhkan pasokan 2 juta butir kelapa per harinya. 3 tahun lalu mereka hanya dapat pasokan sekitar 800 ribu per hari. Sekarang, PSG mendapat penawaran sebesar 5 juta butir per harinya. Tentu over kapasitas. Ini juga menjadi masalah," jelas Wardan.

Kelebihan penawaran komoditas kelapa ini kerap kali menimbulkan problem baru. Kata Wardan, dengan begitu banyaknya penawaran, kapal - kapal pengangkut kelapa terpaksa mengantre untuk membongkar kelapa yang dibawa. "Karena mengantre terlalu lama, banyak kejadian kelapa yang berada pada tumpukan bawah itu menjadi busuk dan bertunas. Akhirnya, kerugianlah yang kembali dirasakan masyarakat petani," tuturnya. (ARV/Rhama Melo).

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga