Minggu 06 Mei 2018

Pancasila dalam Gempuran Idiologi

Oleh Redaksi, PUBLIS

Lambang pancasila diambil dari google picture

Abdurrohman Wahid atau Gus Dur pernah mengatakan bahwa kamu tidak perlu dirubah menjadi antum dan saya menjadi ana. Sederhana memang yang disampaikan, namun tokoh Nahdlatul Ulama tersebut seolah ingin menegaskan bila islam yang ada di Indonesia adalah islam bukanlah budaya Arab. Memang, islam diturunkan di Arab tapi bukan berarti kemudian budaya arab juga melekat di dalamnya, tidak. Sebagaimana tata bahasa yang harus diikuti oleh orang Indonesia, cukup ajaran islam yang harus dijalankan, bukan hanya untuk ummat muslim yang ada di Indonesia melainkan untuk ummat muslim di seluruh penjuru dunia.

Mari kita tinggalkan sejenak pembahasan tersebut, fokuskan pada idiologi yang sejak dahulu kala berebut untuk masuk ke Indonesia. Pertama idiologi kapitalisme, sebagaimana yang diketahui oleh publik, idiologi kapitalis sederhananya diartikan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin, ini pengertian yang sederhana atau lebih jelasnya dapat diartikan pemilik modal lah yang berkuasa.

Sejak putra sang fajar memimpin negeri ini, idiologi tersebut ingin masuk dengan berbagai cara, dapat kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah negeri yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya. Namun, Soekarno ingin semua kekayaan alam tersebut bisa dinikmati bersama, dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia bukan yang lainnya. Sehingga, pemilik modal dari Amerika klojotan, berbagai upaya dengan menegosiasi John F Kennedy yang pada waktu menjadi presiden paman sam tidak pernah berhasil.

Pemilik modal kemudian memanfaatkan situasi yang ada di Indonesia, Soeharto patut diduga sebagai kepanjangan tangan kapitalis dengan memanfaatkan peristiwa G-30S untuk menurunkan Soekarno dari singgasananya. Setelah Soekarno tumbang, idiologi kapitalis seolah dengan mudah masuk ke Indonesia ibarat air yang mengalir, pemilik modal berbondong-bondong masuk menguasai SDA kita, incaran pertama tentu gunung emas freeport, Soeharto membuka kran yang selama ini dijaga dengan kuat oleh Soekarno, Indonesia laris tanpa harus promosi.

Sampai detik ini, idiologi kapitalis terus merongrong negeri ini, berusaha menguasai setiap jengkal tanah, mencabut pohon sampai ke akar akarnya sampai anak cucu kita kelak, kekayaan alam hanya akan mendengar lewat cerita dan dari buku bacaan. Saat Indonesia perlahan bangkit, kapitalisme tidak diam, mereka terus saja berusaha agar negeri ini berada dibawah genggamannya. Di banyak sudut negeri, kita diserang dengan berbagai paham yang mengatasnamakan islam, namun arahnya lebih radikal dan cenderung mengidolakan budaya arab sebagai ukuran islam yang rahmatan lil alamin.

Berbagai gerakan islam muncul, mereka mengklaim sebagai islam yang paling benar dengan mengajak masyarakat agar menjauhi berbagai kegiatan yang dilarang oleh Al-Qur’an dan Hadits. Tahlilan, doa-doa bahkan hizib mereka hukumi haram tanpa mempertimbangkan dari sudut pandang yang lainnya. Sebenarnya, jika ditelusuri lebih mendalam mereka bukanlah merepresentasikan islam melainkan juga kepanjangan tangan dari kapitalisme untuk mengobrak abrik budaya yang sudah ada. Tujuannya apa? Semuanya, mulai dari kekayan alam, bumi dan juga perekonomian. Nah, diawal penjelasan diatas, mengapa Gus Dur menegaskan demikian, agar kita sebagai bangsa tidak mudahnya meninggalkan budaya kita sendiri, sebab ukuran hancur dan tidaknya sebuah bangsa juga bergantung pada budayanya yang sudah mulai terkikis dan punah.

Hizib, dulu oleh pejuang kita utamanya laskar santri digunakan untuk melawan penjajah, sehingga tidak khayal apabila pasukan Inggris meyebut Indonesia memiliki pasukan hantu, sebab ditembak tidak mati dan senjata yang mereka gunakan pun mendadak rusak. Penjelasan tersebut dapat pembaca temukan di perpustakaan Denhaq, mereka takut pada Indonesia karena memiliki kemampuan yang tidak bisa dilawan dengan tekhnologi mana pun. Oleh sebab itu, kapitalisme membentuk gerakan islam yang mengatasnamakan islam paling benar agar masyarakat kita meninggalkan hal-hal demikian, supaya mereka mudah bila seandainya negara ini melawan secara tatap muka dengan senjata.

Beruntung Indonesia memiliki idiologi yang begitu kuat, pancasila sulit untuk diruntuhkan, Soekarno menyebut inti dari pancasila adalah gotong royong dan penjaga pancasila sejati adalah Nahdlatul Ulama yang sampai detik ini masih setia menjadi penyanggah berdirinya negera, menjadi tembok gempuran kapitalisme yang berwujud gerakan islam radikal. Disamping itu, masih ada satu idiologi lagi yang berupaya untuk masuk, yakni idiologi komunis dari China, lalu apakah sama dengan idiologi yang dicetuskan oleh Bung Karno, Nasionalis Agama dan Komunis, jawabannya tidak sama, Bung Karno memiliki konsep tersendiri dengan apa yang dimaksdu komunis—berbeda dengan idiologi komunis yang ada di China, Mou Zhe Dong.

Selama ini, komunis berusaha masuk juga dengan berbagai cara. Dulu, komunis menyusup ke PKI, penulis menduga PKI semula tidak sama dengan komunis yang  ada di China namun lambat laun juga terinfeksi oleh pemahaman komunis yang ada di China sehingga gerakannya melenceng dari partai yang seharusnya menjaga keutuhan NKRI justru lebih condong melakukan usaha-usaha untuk menjadi penguasa seutuhnya di negeri ini. Saat ini, idiologi komunis mulai berkuasa dengan ditandai penguasaan pasarp. Pasar tradisional mulai bergeser bahkan terancam tutup akibat kalah saing.

Bukan hanya sekedar permainan pasar, komunis juga tidak jauh berbeda dengan kapitalis yang bertujuan untuk memporak porandakan NKRI, salah satunya dengan mencekoki masyarakat dengan narkoba dan minuman keras. Beberapa waktu yang lalu, BNN berhasil mengungkap gembong narkoba dari China beratus ratus ton. Mereka membawa barang haram tersebut dari China dengan menyembunyikannya di dalam kolong tiang beton. Bersyukur BNN berhasil mengungkap dan menyita barangnya untuk dimusnahkan, bayangkan saja apabila narkoba dengan sedemikian banyaknya menyebar ke pelosok negeri, sudah berapa remaja kita yang mati sia-sia.

Maka dari itu, guna untuk mengusir dua idiologi jahat tersebut, mari kita fahami dan resapi serta amalkan idiologi kita sendiri, pancasila. Bung Karno menyusunnya tidak dengan mudah, juga dibantu oleh tokoh pendiri bangsa lainnya, melibatkan berbagai tokoh agama yang ada di Indonesia, juga tokoh nasiolis yang sudah berusaha keras menjaga tegaknya NKRI. Semoga Indonesia kedepan semakin jaya, sekali merdeka, NKRI harga mati.

Penulis : Robith Fahmi

Seorang petani kecil di desa terpencil.

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga