Kamis 22 Maret 2018

Menanti Kontribusi Perguruan Tinggi untuk Negeri

Oleh Redaksi, PUBLIS

Seorang sarjana menatap perguruan tinggi / Doc Google Picture

PUBLIS.ID - Perguruan Tinggi adalah lembaga pendidikan yang diharapkan mampu mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan-teknologi serta menyebarluaskannya dan mengoptimalkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat (UU 2 tahun 1989; PP 30 Tahun 1990). Sehingga Perguruan Tinggi diharapakan untuk terus berkomitmen merealisasikan peran dan fungsinya secara optimal, sebab lembaga inilah yang akan menghasilkan insan intelektual pembangun peradaban yang berkontribusi besar bagi kemajuan hidup masyarakat. Utamanya di tengah kondisi masyarakat hari ini, di mana masyarakat dibelit oleh kondisi pelik yang mencekik. 

Namun realitasnya dunia kampus terus tercoreng namanya. Dunia kampus kini digegerkan oleh terciduknya lima orang mahasiswa yang tengah asyik pesta ganja di rumah kos Perum Mastrip Blok L/1 Kelurahan/Kecamatan Sumbersari (Jawapos.com, 21/3). Kasus ini bukanlah yang pertama, sebab sebelumnya, di penghujung tahun 2017 juga dikejutkan dengan ditangkapnya dua orang mahasiswa pemilik dan pengguna 1 kilogram narkoba Selasa (10/10 2017). Dan banyak lagi kasus serupa yang telah mencoreng nama harum perguruan tinggi. Realita ini tentu amat disayangkan oleh semua pihak, karena banyak problem masyarakat yang kian hari semakin menggunung, yang tentu menunggu peran tangan Perguruan Tinggi –yakni kontribusi mahasiswa- secara lebih optimal.

Masyarakat Jember misalkan yang divonis sebagai penyandang buta aksara tertinggi se-Indonesia bertahun lamanya belum tuntas terselesaikan. Indeks pembangunan manusia Jember yang notabene terdapat banyak Perguruan Tinggi di dalamnya masih berada di bawah kabupaten Bondowoso dan Situbondo (beritajatim.com). Diawal tahun 2000-an kabupaten Jember menyabet peringkat pertama daerah yang memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak di Provinsi Jawa Timur, walaupun ada penurunan angka kemiskinan namun jumlahnya belum bisa dikatakan signifikan dan masih menyisakan pekerjaan rumah. Kelangkaan pupuk bersubsidi akibat adanya liberalisasi ekonomi juga menjadi masalah di Jember beberapa waktu lalu, masyarakat Jember yang sebagian besar adalah petani mengeluhkan lambannya distribusi pupuk sedangkan harga pupuk non-subsidi mahal, sedangkan harga jual hasil panen menurun (republika.co.id). Masuknya bahan pangan impor ke kota Jember juga mematikan potensi petani. Rencana tata ruang wilayah juga sempat menjadi masalah, bahkan pembangunan kota menyisakan masalah irigasi dan lain-lain. Krisis air bersih dan kelangkaan gas elpiji juga dirasakan oleh masyarakat Jember.

Padahal kabupaten Jember saat ini memiliki 17 Perguruan Tinggi –swasta maupun negeri- meliputi Akademi, Institut, Politeknik, Sekolah Tinggi, dan Universitas, tentu ini merupakan potensi daerah yang sangat besar jika dikontribusikan untuk pembangunan masyarakat. Sebagaimana disampaikan Ibnu Hamad seorang profesor bidang ilmu komunikasi FISIP-UI (11/07) “Kehadiran universitas di sebuah wilayah hendaknya dilandasi dengan kepedulian pada lingkungan sekitarnya. Kepedulian ini, pertama-tama haruslah diarahkan pada warga yang terdekat dengan universitas, mereka yang pelataran rumahnya menempel dengan pagar kampus. Adakah di antara mereka yang tidak mampu: makan-minumnya kurang, pakaiannya kusam, tempat tinggalnya sangat sederhana, anak-anaknya putus sekolah? Berapa jumlah mereka? Sudahkah dimiliki datanya? Lantas, pantaskah sebuah universitas dengan kampus berstandar World Class University hanya berfungsi sebagai menara gading? Jangan mengaku telah melaksanakan University Social Responsibility bilamana cuma bisa menerima sesuatu dari masyarakat dan tidak mampu memberi sesuatu pada masyarakat.” (sumberdaya.ristekdikti.go.id)

Idealnya Perguruan Tinggi mengarahkan kemajuan riset dan teknologi untuk kepentingan masyarakat secara optimal. Lebihnya secara umum kehidupan berbangsa kita masih belum sepenuhnya bisa dikatakan mandiri dan berdaulat. Contohnya hampir semua kebutuhan pangan nasional dipenuhi oleh produk impor, proyek pembangunan masih sangat bergantung pada modal dan investasi asing, termasuk dalam hal riset dan teknologi. Selain itu rakyat masih hidup dalam kesengsaraan, kesenjangan, ketidakadilan, kemiskinan, dan lain sebagainya. Namun di sisi lain mahasiswa masih terbuai dengan gaya hidup kebarat-baratan dengan paham serba bebas yang pada akhirnya bukan berkontribusi untuk pembangunan tapi menjadi beban pembangunan sebagai penyumbang angka penyalahgunaan narkoba, seks bebas, HIV/AIDS, aborsi, dan lain sebagainya. 

Arah visi kampus perlu disandarkan kembali tujuan Perguruan Tinggi yaitu mencetak insan intelektual yang berkontribusi besar bagi masyarakat, yang tentunya kontribusi tersebut bukan diorientasikan pada keuntungan materi, namun didasarkan pada kesadaran intelektual yang dibingkis dengan dorongan keimanan untuk mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Sebab penting hari ini untuk mengabungkan sisi intelektualitas dengan keimanan seperti yang disampaikan oleh K.H. Lukman Hakim, Ph.D dalam acara kuliah umum di Univeritas Jember, Senin (09/10 2017), “Pada jaman sekarang ini sudah seharusnya kita melibatkan Allah dalam setiap sendi kehidupan.” Menurutnya, para mahasiswa dan para dosen harus meniatkan diri segala proses pembelajaran dalam rangka menuju pada Allah. Akhirnya arah visi Perguruan Tinggi adalah menggabungkan ketinggian ilmu pengetahuan dengan ketaqwaan kepada Allah, agar apa yang telah dipelajari di kampus dapat bermanfaat dan menyelesaikan problem masyarakat dan negeri ini. Sebab dengan keimanan ini pulalah yang akan menjadi benteng bagi intelektual agar terhindarkan dari berbagai macam tindakan yang mendatangkan kerusakan.

Penulis : Mahdiah Imadul Ummah., S.Pd

Mantan Aktivis Mahasiswa

Pemerhati Masalah Generasi


Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga