Rabu 17 Januari 2018

Melihat Lebih Dekat Tradisi Barik’an di Desa Wonosari, Jember

Oleh Fahmi Robith, PUBLIS

(FOTO: Robith Fahmi/ PUBLIS.ID)

PUBLIS.ID, Jember – Barik’an adalah tradisi petani di Desa Wonosari, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Bisa juga disebut dengan tutup tandur, tradisi ini sebagai penanda berakhirnya masa tanam bagi petani, sekaligus bentuk rasa syukur dengan memanjatkan doa agar tanaman jauh dari segala macam hama, lebih dari itu berharap mendapatkan panen yang melimpah nantinya.

Ketua kelompok Tani Bumi Putera, Abdul Waris menyebut tradisi barik’an merupakan peninggalan para leluhurnya. Selain itu, tetap dilaksanakannya barik’an setiap tahun agar tradisi Mbah Buyut terawat dan tidak punah. “Juga sebagai pemersatu para petani,” tuturnya usai ritual di lapangan desa setempat, Rabu (17/1/2019).

Sebelumnya, kata Waris, tradisi barik’an dilaksanakan secara terpisah sesuai area tanam padi. Namun, kali ini cukup berbeda sebab pelaksanaannya secara bersama-sama dengan petani lainnya. Maka dari itu, juga digelar makan bersama dengan para petani seluruh Desa Wonosari, jadi tidak heran bila barik’an kali ini begitu meriah.

Sebelum digabung seperti ini, sambung Waris, pelaksanaan dilaksanakan di empat blok. Sementara untuk prosesi ritual barik’an seperti pada umumnya, dibuka dengan petuah dari sesepuh desa. Setelah itu, sesepuh memimpin doa.

Saat pembacaan doa-doa, petani duduk bersila dengan khusuk, melafalkan doa menirukan yang dibaca oleh sesepuh. Mereka mengitari sajian makanan yang dibawa masing-masing petani, mulai dari tumpeng, pisang dan beragam hasil bumi lainnya. Setelah pembacaan doa selesai,  beragam sajian tersebut kemudian dimakan bersama adapula yang dibawa pulang.

“Dengan lantunan doa-doa yang dibaca bersama ini, kami meyakini bila apa yang menjadi harapan kami didengar dan dikabulkan oleh tuhan. Terhindar dari hama dan dijauhkan dari yang namanya gagal panen,” ujar Antoro yang hampir tidak pernah absen setiap ritual barik’an.

Selain pelaksanaan yang berbeda, ritual kali ini juga ditambah dengan adanya sesi penyampaian aspirasi, sebab pemerintah desa dan perwakilan Dinas Pertanian juga turur hadir di tengah acara.

Antoro berharap kepada pemerintah agar tidak mengimpor beras dari luar negeri. Sebab biasanya saat masa panen raya tiba, harga gabah bisa turun. Jika sampai impor, “Kami khawatir harganya anjlok dan merugikan petani," cemasnya.

Fahmi Robith

Write is my life

Baca Juga