Kamis 07 Desember 2017

Jordan: Keputusan Trump memalukan bagi orang Arab dan Muslim di seluruh dunia

Oleh , PUBLIS

Raja Abdullah II dari Jordan (FOTO: AFP/Yousef Allan).

PUBLIS.ID, Jordan - Saat orang-orang Palestina terus mencela niat Donald Trump untuk mengumumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, beberapa negara-negara Arab juga menyuarakan ketidakpuasan mereka, akan banyak ketakutan yang akan menimbulkan konsekuensi berbahaya bagi wilayah ini secara keseluruhan.

Negara tetangga Palestina, Yordania. Yang merupakan sekutu utama AS di Timur Tengah, Raja Abdullah II mengatakan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa mengakui kota suci tersebut sebagai ibukota Israel akan mengobarkan perasaan sakit hati kaum Muslim dan Kristen.

Keputusan tersebut akan memiliki "dampak berbahaya pada stabilitas dan keamanan kawasan ini", kata Abdullah, menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh istana tersebut.

Langkah Trump ini sangat memalukan bagi Raja Abdullah sejak ayahnya, almarhum Raja Hussein, yang telah kehilangan kota Yerusalem dan berpindah tangan ke Israel dalam perang 1967.


Iklan2


Kakek buyut Raja Abdullah, Sharif Ali bin Al Hussein, yang dimakamkan di halaman Masjid al-Aqsa sekitar tahun 1930-an pernah menjadi Sharif di Mekah dan juga menjabat sebagai mantan raja Hashemite dari Hijaz.

Berdasarkan kesepakatan yang terjadi pada tahun 2013 yang ditandatangani antara Yordania dan Otoritas Palestina, Raja Abdullah menjadi penjaga tempat suci bagi Muslim dan Kristen di Yerusalem.

Itulah sebabnya mengapa Pengadilan Kerajaan Hashemite, sebuah badan administratif yang terdiri dari raja dan badan politik dan peradilan Yordania, membayar gaji pekerja di tempat-tempat suci umat Islam tersebut.

Abdul Ilah al-Khatib, mantan menteri luar negeri Yordania, mengatakan melalui media Al Jazeera bahwa isu Yerusalem bukan hanya masalah Yordania, tapi juga "orang Arab dan Islam".


Iklan2


"Keputusan Trump memalukan bagi orang Arab dan Muslim di seluruh dunia," kata Khatib.


Israel dan Yerusalem.

Pada tahun 1947, rencana pembagian PBB di Palestina membayangkan membagi wilayah tersebut menjadi dua negara, Yahudi dan Arab yang terpisah, namun akan meninggalkan Yerusalem di bawah pemerintahan internasional.

Ketika Israel berdiri secara resmi setahun kemudian, Israel mengambil alih Yerusalem Barat, dan pada tahun 1950 Israel mengumumkan ibukota kotanya.

Pada saat itu Yerusalem Timur masih berada di bawah kendali Yordania sebelum akhirnya Israel menduduki kota tersebut, bersama dengan sisa Tepi Barat lainnya.

Tahun 1980, Israel mengumumkan Penyatuan Yerusalem (baik Timur dan Barat). Sebuah tindakan yang ilegal menurut hukum internasional.

Tetapi klaim Israel terhadap kota suci tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional hingga sekarang.


Baca Juga