Minggu 15 April 2018

Guru ini Berangkat Mengajar Pakai Sepeda yang Dibelinya Sewaktu SD

Oleh Redaksi, PUBLIS

Guru SMAN Ambulu, Putu Yogatama saat hendak menaruh sepedanya di parkiran sekolah / Doc Robith Fahmi

PUBLIS.ID, JEMBER – Putu Yogatama, lahir di Buleleng tanggal 24 bulan Januari tahun 1961. Menjadi guru mulai tahun 1984 dan sejak pertama menjadi guru, Putu senantiasa mengendarai sepeda kesayangannya yang ia beli sewaktu masih sekolah dasar. Memilih bersepeda, alasannya sederhana yakni bisa menikmati lingkungan juga tentu menyehatkan.

“Bersepeda adalah bagian dari hidup saya. Otomatis tidak punya pilihan yang lain, cukup satu itu yakni bersepeda. Selain bisa menyehatkan juga membuat kita hemat,” kata Putu Yogatama, sebagaimana dalam vidio yang dibuat oleh siswanya, Sabtu (14/4/2018).

Motivasi Putu menjadi guru, sebab ia berasal dari keluarga guru, ayahnya guru sekolah dasar. Dengan demikian, secara tidak langsung sejak awal Putu mengaku sudah terkondisikan, terarahkan untuk mencintai guru. Panutannya, tidak lain adalah ayahnya sendiri.

Sampai detik ini, sambung Putu, dirinya tidak pernah merasakan duka, sebab menurutnya menjadi guru sangat menyenangkan dan selama ini selalu berfikir positif terhadap profesi guru, “Maka dari itu, hanya suka yang saya temukan sebagai seorang guru,” ujar Putu.

Meski beragama hindu, di lingkungan rumahnya Putu selalu hadir dalam kegiatan keagamaan agama lain, layaknya tahlil, genduren dan kegiatan keagamaan lainnya. Kata Putu, kegiatan keagamaan adalah baik dan mengajarkan kebaikan, apalagi kebenaran menurutnya bersifat universal.

“Saya tidak pernah mempermasalahkan darimana arah kebenaran itu sendiri, karena pada hakikatnya kebenaran itu adalah spirit, dengan spirit kita bisa hidup lebih tenang, lebih damai. Saya senantiasa mengikuti kegiatan keagamaan baik itu di sekolah atau pun di rumah,” ungkapnya.

Menghargai orang lain, lanjut Putu, salah satu kunci agar seseorang bisa diterima oleh lingkungannya. Apalagi, Indonesia adalah negara yang penuh dengan keberagaman dan itu nikmat sekaligus sumber daya paling besar yang dimiliki Indonesia.

“Kita diajari keberagaman oleh tubuh kita sendiri, ada mata kiri, ada mata kanan, ada pula kaki dan tangan, itulah keberagaman. Tidak semua dari leher saja atau tangan saja, dengan keberagaman kita menjadi semakin kuat, kita menjadi lebih sempurna, kita menjadi lebih utuh, sebab kita bisa mengerjakan semua yang kita hadapi,” terang Putu.

Berkaitan kekerasan dalam dunia pendidikan, Putu mengatakan, hal itu disebabkan oleh miss komunikasi, bila tidak ada miss komunikasi, ia yakin kekerasan itu tidak akan pernah ada. Sebab pada dasarnya, semua harus saling menyanyangi, saling membutuhkan dan saling mengharapkan. Dirinya sangat menyayangkan adanya kekerasan di dalam dunia pendidikan.

Putu berpesan pada siswa Indonesia, bahwa siswa adalah modal terbesar kedepan, mereka harus siap menerima estafet dari generasi sebelumnya, harus betul-betul menyiapkan semuanya sebab tantangan kedepan semakin besar.

“Ketika sudah menyelesaikan pendidikannya, saya berharap siswa Indonesia tidak meningggalkan budayanya, dia tetap bergerak naik menggapai langit tapi kakinya tetap menginjak bumi tidak kehilangan keindonesiaannya,” ungkap Putu. (RF)

Redaksi

publis.ID berupaya menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita dan informasi dengan menerapkan standar jurnalisme yang berkualitas dalam meliput berbagai peristiwa daerah, nasional, dan internasional.

Baca Juga